Kebersamaan bertahun-tahun, siang dan
malam, ternyata bukan jaminan terjalinnya komunikasi yang baik antara
suami dan istri. Padahal banyak yang berdalih bahwa pendekatan sebelum
menikah mampu saling mengenal dan komunikasi yang baik sebelum memasuki
jenjang yang lebih serius; pernikahan. Padahal alat komunikasi pun sudah
super canggih. Jarak bukan masalah. Hanya fisik yang tidak bisa saling
bersentuhan. Tetapi kalimat, suara bahkan wajah pun bisa dihadirkan
walau jauh terpisah. Tetapi tetap saja, komunikasi macet. Aneh....
Berbagai pelatihan komunikasi menjadi
sangat penting bagi keluarga. Berhari-hari, bahkan tidak sekali,
pelatihan komunikasi diikuti. Berbagai metode dan pendekatan dilakukan.
Tapi, belum juga....
Komunikasi terbaik yang sangat dahsyat
adalah komunikasi manusia terbaik dengan keluarga terbaik. Rasulullah
dengan para istrinya. Tanpa alat komunikasi, jika mereka berpisah secara
fisik, akan menghilang sekian lama tanpa berita. Tanpa pelatihan
berbelit dengan konsep rumit yang terkadang semakin membuat seseorang
salah tingkah. Bahkan tanpa pendekatan sebelum menikah yang diklaim
mampu mengawali komunikasi yang baik. Sudah waktunya, kita belajar dari
komunikasi Rasulullah dalam rumahtangga beliau.
DR. Jasim al Muthowwa’ seorang pakar parenting asal Kuwait membagi
komunikasi Nabi menjadi dua bagian besar: Komunikasi kata dan komunikasi
tanpa kata. Pakar dengan karya ilmiah S2 nya berjudul: rahasia
rumahtangga dalam perspektif Al Quran dan Sunnah itu, menganalisa
berbagai pola komunikasi Nabi dengan para istri dalam berbagai keadaan.
Komunikasi kata pertama adalah antara Nabi dengan istri yang
mendukungnya sepenuh jiwa dan hartanya. Pasangan hidup yang membuat
istri sehebat Aisyah cemburu dan berkata: Seperti tidak wanita lain di dunia ini selain Khadijah!
Kita akan melihat kecerdasan dan kecerdikan seorang istri
berkomunikasi dengan suami yang sedang berada dalam kepanikan karena
peristiwa yang dihadapinya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim serta Musnad
Ahmad disampaikan tentang keadaan Nabi saat baru menerima wahyu pertama
di Gua Hira’,Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pulang ke Khadijah dalam keadaan gemetar fisik dan hatinya. Beliau masuk dan berkata: selimuti aku, selimuti aku...
Ketika telah mulai tenang, beliau berkata: Khadijah, aku khawatir
diriku akan tertimpa musibah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah.
Khadijah berkata: Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan
merendahkanmu selamanya. Engkau benar-benar jujur dalam ucapan, menjaga
silaturahim, menanggung beban, memuliakan tamu dan membantu orang yang
kesulitan.
Khadijah kemudian membawanya ke Waraqah bin Naufal bin Asad. Dia
adalah seseorang yang memeluk agama Nasrani. Sudah tua dan buta, mampu
membaca dan menulis Injil dengan Bahasa Arab.
Khadijah berkata kepada Waraqah: Hai paman, dengarkanlah kisah anak saudaramu ini.
Waraqah berkata: Hai anak saudaraku, apa yang kamu lihat?
Rasulullah menceritakan yang dilihatnya.
Waraqah berkata: Ini Namus (Jibril) yang pernah turun kepada Musa.
Andai aku punya usia panjang, nanti saat kamu diusir dari oleh
masyarakatmu.
Rasulullah bertanya: Apakah mereka akan mengusirku?
Waraqah menjawab: Ya, tidaklah ada orang yang membawa seperti yang
kau bawa kecuali akan dimusuhi dan disakiti. Jika aku masih menjumpai
hari itu, aku akan menolongmu dengan pertolongan yang besar.
Khadijah benar-benar wanita ideal. Satu dari empat wanita terbaik di
dunia ini. Istri yang sangat mengerti bagaimana mendampingi tugas besar
sang suami. Jika para muslimah mau menjadi yang paling berharga dalam
kehidupan suami, maka Khadijah adalah tempat berguru. Di antaranya,
kiprah Khadijah dalam hadits di atas. Situasi suami yang panik dan
khawatir atas keselamatan dirinya, mendapatkan siraman embun dalam
dekapan sang istri. Inilah makna dari ayat,
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya.” (Qs. Ar Rum: 21)
Jika seorang suami benar-benar merasakan kehadiran istri dalam
kehidupannya, terutama saat sulit yang harus dilaluinya. Dalam rumah
yang juga menjadi tempat kenyamanan. Maka, pasti seorang suami akan bisa
merasakan kehadiran Khadijah dalam kehidupannya.
Dalam pembahasan kita ini, lisan seorang istri ternyata menjadi salah
satu sumber utama kenyamanan suami. Maka, jangan justru menjadikan
lisan sumber masalah dalam rumahtangga.
Mari kita dalami tehnik komunikasi hebat seorang istri di saat suami
sedang panik dan khawatir. Belajar dari Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu anha...
Suami yang khawatir dan panik, sering tergambar jelas di wajah dan
suaranya, untuk kemudian disampaikan melalui lisan patah-patah. Maka,
1. Khadijah memahami
Komunikasi yang baik dibangun di atas kepekaan terhadap pasangan.
Mungkin tidak terucap. Bahkan mungkin tidak mampu diucapkan. Terlalu
berat. Tetapi pasangan yang baik, adalah pasangan yang mampu mengetahui
bahkan belum diberitahu. Mampu merasa walau hanya dikirimkan melalui
gelombang halus kata.
2. Khadijah menyelimuti
Seseorang yang tidak nyaman, biasanya terlihat begitu jelas pada
mata, wajah dan gerak fisiknya. Untuk itulah, pasangan harus memberikan
kenyamanan pada fisik sebelum yang lainnya. Karena sekarang, fisik lah
yang paling memerlukan kenyamanan. Dan memberikan kenyamanan fisik jauh
lebih sederhana.Khadijah menyelimuti seperti permintaan Rasulullah.
Dekapan hangat kain yang dibentangkan oleh sang istri memberikan
kehangatan yang diharapkan mampu menembus hingga hati. Dekapan pasangan juga merupakan kenyamanan yang tidak ada gantinya.
3. Khadijah menenangkan dengan kalimat
Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya,
begitulah Khadijah menyamankan suaminya.Menyandarkan kenyamanan kepada
Allah bagi orang-orang beriman merupakan puncak kenyamanan dan
kepasrahan. Sehingga kegelisahan itu akan cepat sekali pergi.
4. Khadijah memuji untuk meyakinkan
Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya.
Engkau benar-benar jujur dalam ucapan, menjaga silaturahim, menanggung
beban, memuliakan tamu dan membantu orang yang kesulitan. Kalimat yang
mengalir jujur dan bukan basa-basi. Menyejukkan hati yang sedang panas.
Menenangkan jiwa yang sedang gemetar. Memantapkan keyakinan akan
pertolongan Allah.
5. Khadijah mencari solusi nyata
Khadijah kemudian membawanya ke Waraqah bin Naufal bin Asad. Dia
adalah seseorang yang memeluk agama Nasrani. Sudah tua dan buta, mampu
membaca dan menulis Injil dengan Bahasa Arab.
Poin satu hingga empat adalah kemampuan seorang istri yang hebat
dalam menghantarkan ketenangan bagi sang suami yang sedang dalam
kepanikan. Tetapi harus diakui bahwa sesungguhnya permasalahan intinya
belum terjawab. Tetapi ketenangan itu sudah mulai merayapi setiap
persendian sang suami.
Maka, setelah semuanya tenang kembali, solusi itu dicari kepada ahlinya.
Istri yang cerdas. Komunikasi yang indah antara sepasang suami istri terbaik.
